Blog Pribadi tentang Investasi, Marketing dan Berbagi Pengalaman

Wednesday, 19 October 2016

Trip With Ananda Aninditya - Dieng (Travelling)


Kawah Sikidang
Sebenarnya lagi jenuh mau buat analisa dan tulisan yang berhubungan dengan Ekonomi ataupun yang berhubungan dengan market serta Money Management. Bukan hanya itu saja alasannya, salah satu hal yang membuat postingan ini lahir adalah karena otak yang lagi stress dan kurang liburan sehingga untuk melupakan sejenak dan refreshing maka dengan bercerita sambil buat postingan ini hidupku paling enggak akan terasa lebih bahagia -_- iya walaupun sedikit :(  Dilanjut ke pembahasan kita tentang jalan - jalan bersama gadis cantik yang tiada duanya haha selain ibu ku maksudnya (agak gombal sih ) :P yaitu Ananda Aninditya. Gak perlu di ceritakan bagaimana orangnya, tentunya cantik, baik hati, enak diajak ngobrol tentang berbagai hal dan tentunya masih tetap cantik ya elah ini lagi haha :) 
Trip saya mulai agak siang karena memang sempatnya siang, perjalanan pun saya menggunakan roda dua dari kota tercinta yaitu Wonosobo yang terkenal dengan Mie Ongklok, Dataran Tinggi Dieng, Anak Rambut Gimbal Dieng dan lainnya yang buat siapa aja datang ke kota Wonosobo akan jatuh hati untuk mengunjunginya lagi dan lagi. Siang itu di hari minggu memang tampak sangat cerah walaupun tidak cerah sekali. Ngomong - ngomong ini mau trip kemana nih ? pasti kalian penasaran kan, ya jelas pilihan kami memang tidak jauh dalam melakukan travelling yaitu ke Dataran Tinggi Dieng atau yang dikenal dengan Dieng Plateau. Yapss sebelum lanjut mungkin yang belum pernah ke Dataran Tinggi Dieng pasti akan penasaran tempat apa sih yang akan kita kunjungi ? Dataran Tinggi Dieng merupakan dataran terluas yang ada di belahan dunia ini kedua, benar sekali karena dataran tinggi terluas dan paling luas di dunia terletak di Negara Nepal.

Terus obyek wisatanya apa saja :
  1. Kompleks Candi Arjuna , Telaga Balaikambang, Candi Gatotkacha, dan Candi Setyaki
  2. Kawah Sikidang
  3. Telaga Warna dan Telaga Pengilon
  4. Dieng Plateau Theater
  5. Bukit Sidengkeng (Wana Wisata Petak Sembilan)
  6. Batu Pandang atau yang terkenal dengan sebutan Batu Ratapan Angin
  7. Candi Bima
  8. Sumur Jalatunda dll.
Masih banyak lagi yang harus saya tulis berhubung lagi males nulis tentang obyek wisatanya jadi cukup delapan saja dulu ya hehe. Untuk detail obyek wisata satu persatu akan saya bahas pada postingan selanjutnya ya jadi sabar dahulu, dilanjut nih travellingnya setelah sampai dirumah perjalanan pun di lanjut ke Dataran Tinggi Dieng yang terkenal akan dingin dan ruwatan rambut gimbal yang dilakukan setiap tahun oleh pemerintah daerah terkait. Perjalanan dari kota tercinta Wonosobo menuju Dieng yaitu kurang lebih 30 menit sampai 45 menit jika keadaan jalan lancar tapi waktu itu sungguh sial karena ternyata jalan yang kami lewati agak padat dan terjadi kemacetan di beberapa titik seperti di pasar - pasar sebelum menuju ke Kecamatan Garung. Alhasil kamipun tidak kehilangan cara dan memilih jalur alternatif yang memang agak jauh tetapi kalau sedang cerah pemandangannya sungguh indah dan romantis, berharap cuaca cerah tetapi apa daya alam berkata lain hujan gerimispun datang dan terpaksa harus memakai jas hujan. Pemandanganpun tak kami dapatkan hanya rintik air hujan yang menemani kami berdua selama perjalanan menuju Dataran Tinggi Dieng. Gak usah dibayangin bagaimana dinginnya deh, sudah pasti masih akan terasa hangat kok :P haha sebenarnya hati ini ingin singgah di Obyek Wisata pertama kali yang sungguh menawan yaitu Gardu Pandan Tieng dengan ketinggian 1.789 meter diatas permukaan laut (mdpl) tapi lagi - lagi kami melihat bahwa situasi tidak memungkinkan maka keinginan untuk bersinggah sebentar di Gardu Pandang Tieng pun kami urungkan karena kabut tebal menyelimuti sehingga tidak ada yang bisa dilihat selain warna putih :( hiks.

Ini bukan Gardu Pandang ya tapi Telaga Menjer 
Sudah gak usak ngarepin foto yang di Gardu Pandang Tieng karena memang cuaca lagi gak bersahabat maka berhentipun urung dilakukan alhasil tak dapat fotonya :( #sedih dan perjalanan kami pun berlanjut sampai di Dieng Plateau. Akhirnya setelah melancarkan perdebatan sengit untuk tujuan pertama maka deal kita sampai ke Batu Pandang atau yang terkenal dengan Batu Ratapan Angin yang terletak di Desa Dieng Wetan Kecamatan Kejajar persis letaknya ada di sebelah gedung theater dan naik sebentar lah kurang lebih 10 menit sampai lah kita di puncak Batu Ratapan Angin :)

Jangan harap dapat foto yang bagus
 karena emang cuacanya lagi mendung dan bekabut :(


Fokus ke Telaganya jangan ke muka kita berdua :P
Setelah puas menikmati indahnya Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari atas puncak bukit Batu Ratapan Angin maka perjalananpun dilanjutkan ke obyek wisata yang tidak kalah menariknya yaitu Kawah Sikidang. Wah disini emang spot fotonya bagus - bagus dan sangat keren tapi sayang harus bayar. So setelah puas menikmati panasnya Kawah Sikidang maka kami tak lupa untuk berfoto - foto dan berselfie ria haha. Dan setelah puas maka destinasi selanjutnya yang masih namoak sepi dari pengunjung adalah obyek wisara Telaga Merdada, telaga ini merupakan telaga terluas yang ada di Dataran Tinggi Dieng yang menarik adalah sumber mata airnya hanya dari air hujan dan tentunya ketika musim kemarau bisa ditebak bahwa air di Telaga Merdada ini akan surut dan kering. Disini kita menghabiskan waktu agak lama sambil bercerita tentang banyak hal dan di temani oleh pemandangan yang sangat menyejukkan kedua bola mata yaitu selain air telaga yang jernih anda juga akan bisa menatap indahnya lereng Gunung Sumerep. Dan ketika matahari mulai malu dan segera pamit maka kami pun memutuskan untuk segera kembali turun dan pulang. 

Photo with Owl
Sok romantis haha :P












Wednesday, 5 October 2016

Pesona Dataran Tinggi Dieng - Wisata Dieng


Oke guys setelah beberapa lama vakum alias sibuk dengan kehidupan nyata, ciee haha hari ini saya akan posting mengenai Dataran Tinggi Dieng. Yapss, apanya yang yapss ? ahh yaitu Dataran Tinggi Dieng nya . -_-!! hadeehh. Ya Dataran Tinggi Dieng merupakan salah satu dataran tinggi tertinggi di Indonesia dan salah kedua di Dunia, haha salah siapa baca :P wkwk. Kenapa salah kedua ? Karena dataran tinggi terluas di dunia ada di Nepal sehingga Dataran Tinggi Dieng menempati posisi kedua dataran tinggi terluas. Yakin tidak berminat Wisata ke Dieng !!! Bukan hanya dataran tinggi saja tetapi jika kamu Wisata ke Dieng maka anda akan merasakan dinginnya di Dieng seperti dinginnya di Eropa, kamu gag percaya ? wuihhh dinginnya kalau Wisata Dieng itu bisa mencapai minus 4 derajat celcius. Kagak bisa bayangin kan gimana dinginnya di Dataran Tinggi Dieng kan ?
Golden Sunrise Sikunir - Dieng
Makanya datang nikmati dan resapi dinginnya Wisata ke Dieng, Dieng itu sendiri terletak di dua kabupaten yaitu Wonosobo dan Banjarnegara. Terus enakkan lewa mana dong ? Menurut pengalaman si penulis atau saya, maka lebih enak untuk melewati Kabupaten Wonosobo untuk mencapai di Dataran Tinggi Dieng. Lho kenapa ? Karena aksesnya lebih mudah, yang kedua untuk Homestay juga lebih banyak dan yang gag kalah pentingnya adalah wisata kulinernya itu lho bikin ngiler sama bikin kenyang haha. Untuk mencapai wilayah wonosobo sendiri membutuhkan waktu 2 sampai 2,5 jam dari Purwokerto, 3 sampai 3,5 jam jika dari kota Semarang dan 3,5 sampai 4 jam dari kota Yogyakarta. Tinggal pilih aja deh kalian yang mau travelling ke Dieng mau lewat mana. Untuk sampai di Dataran Tinggi Dieng nya sendiri dari Kota Wonosobo memerlukan waktu sekitar kurang lebih 30 sampai 45 menit ya. Mungkin bisa sampai dua hari jika jalan kaki ahaha :P Mau jalan kaki ke Dieng ? Beneran lhoo,, bener - bener pegel badan sama kaki hahaha. Becanda guys, setelah sampai di Dataran Tinggi Dieng jangan lupa untuk mengunjungi tempat - tempat wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungi seperti Fenomena Alam Kawah Sikidang, Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, Sumur Jalatunda, Kompleks Candi Arjuna, Candi Gathotkaca, Candi Setyaki, Dieng Plateau Theater, dan tempat favorit wisatawan seperti Batu Ratapan Angin serta Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Untuk detail tempat wisata nanti bisa kamu baca di postingan selanjutnya. So sampai kapan berdiam diri dirumah, yakin enggak mau merasakan dinginnya Dieng :) haha



Thursday, 11 February 2016

Nasib PKL dan fenomena PL | Idam

Sistem Ekonomi Yang Perlu Diperbaiki



Meski udara malam hari kota Wonosobo begitu dingin, saya akan ajak para pembaca untuk sejenak jalan-jalan menikmati suasana kota yang aman-sehat rapi lagi indah ini. Jangan khawatir, hawa dingin akan segera hilang, ayo kita patungan beberapa ratus ribu untuk menyewa sebuah room karaoke yang saat ini keberadaannya menjamur di setiap sudut dan tengah kota, syair dangdut bernafas religi ala Bang Haji Rhoma yang di lantunkan para PL cantik lokalan didalam bilik ruang remang-remang bakal menghangatkan suasana . Dan karena efek lirik religius lagunya Bang Haji yang dinyanyikan merdu oleh mbak pemandu lagu, maka hati kita akan terasa teduh dan tentu saja, seksi!. Kadang suasana hangat bisa menjadi panas-dingin memacu adrenalin kita, ketika sosok mbak PL cakep yang mulai (atau kita yang mulai) nakal itu kita kenali dengan baik, atau jangan-jangan mereka yang bekerja ditempat-tempat itu adalah salah satu kerabat dekat kita, atau bisa juga anak wedok yang ngakune pamit ngerantau buat kuliah, Panas dingin bukan?
Pembaca yang budiman, anda tentu akan merasa prihatin melihat keadaan ini. Dibalik citra siang hari yang menampilkan Wonosobo sebagai salah satu kota yang terkenal dengan kehidupan masyarakatnya yang religius dan bermoral luhur, akan segera berubah begitu matahari disini mulai tenggelam. Suatu peristiwa siklus kehidupan sosial yang sangat ironi angkres dan membuat trenyuh- miris. Tukang ndolog kayu boleh saja berpendapat, bahwa jaman memang sudah berubah, ora edan ora keduman, atau omong kosong filosofi lain. Atau kaum cah kuliahan muda yang keminggris berpendapat bahwa hal ini adalah pengaruh globalisasi yang tidak bisa dibendung arusnya. Padahal sebenarnya asal-muasal masalahnya sepele, EKONOMI.
Masalah serius tapi nggak ngetren : lapangan kerja
Permasalahan disini akan ditindak secara serius bilamana hal tersebut sedang ngetren, sedangkan permasalahan yang sesungguhnya benar-benar serius tapi kalo tidak ngetren biasanya diabaikan. Lapangan pekerjaan di Wonosobo adalah suatu permasalahan serius tapi sayang tidak ngetren, pemerintah daerah sekarang sepertinya tidak serius dan seenaknya dalam hal ini. Saya tidak sembarangan bicara, coba hitung jumlah perusahaan ritel warungan macam ind*ma*et, hampir setiap jengkal dipinggir jalan Wonosobo ada. Manfaatnya memang menciptakan lapangan kerja, tapi masalahnya adalah menimbulkan persaingan tidak imbang antara bakulan cilik dengan raksasa perusahaan warungan besar, melindungi rakyatkah hal itu?
Lalu ada berapakah perusahaan dan pabrik-pabrik disini yang benar-benar berinvestasi untuk kegiatan di sektor-sektor penting? Kita anggap ada banyak, lalu ambil contoh pabrik pengolahan kayu, tapi apakah sudah benar-benar mensejahterakan pekerjanya? Jangankan keselamatan kerja, standar gaji saja masih menjadi permasalahan yang sepertinya tidak mampu pemerintah pecahkan. Ini fakta, ketika saya menjadi penagih hutang kreditan motor yang menangani 730 nasabah yang tersebar di seluruh wilayah Wonosobo, ada sekitar 30% kredit macet, saya paling sulit menangani para pekerja buruh, apa mau dikata jika gaji yang diterima pas-pasan, wajar jika sekali menunggak angsuran, maka sulit untuk menormalkan kembali. Faktor gaji hanya salah satu masalah, tapi masalah urgent lain adalah beberapa masyarakat yang terdesak himpitan ekonomi, menyengajakan diri menumbalkan KTP-nya untuk kredit barang dan mencurangi bank untuk barang tersebut dijual lagi secara gelap, sehingga hari ini kegiatan yang dilakukan mainstream tersebut melahirkan sebuah peluang dan terciptalah bisnis cukup bagus, yang tidak lain hal ini terlahir karena minimnya pekerjaan. Sungguh, bahwa letak kesalahan adalah pada sistem dan aturan yang buruk, bukan manusianya. Manusia hanyalah manusia, yang dianugerahi akal, untuk bertahan hidup segala tindakan diupayakan, maka hal yang picik jika kita menyalahkan dan menuding oknum-oknum tertentu, tapi sistemlah yang memang sudah keliru dan harus dirubah.
Ekonomi yang tidak dilindungi
Tidak perlu muluk-muluk jauh mempromosikan kepada para investor agar membangun bisnisnya yang akan menciptakan lapangan kerja, hal kecil saja, yaitu melindungi pekerjaan yang sudah ada saja sepertinya masih belum. Lihat saja pasar induk, berapa kali terjadi peristiwa kebakaran? Jika hal ini terjadi berulang apakah memang kecelakaan?. Baiklah walaupun saya ini bukan, tapi sebagai warga kota yang masyarakatnya terkenal religius, mari kita ambil dari kacamata yang khusnudzon, maka jika hal ini memang kecelakaan tentunya ini adalah sebuah ketelodaran yang sungguh ngecamprang mengingat pasar adalah pusat ekonomi rakyat banyak, rakyat kecil lho. Lalu siapa yang dirugikan? Bilamana memang kios-kios di pasar telah diasuransikan dan dijamin ganti ruginya, tetap saja PKL dan pedagang-pedagang kecil tak bertoko tidak dapat apa-apa, belum lagi jasa-jasa angkutan sayur yang terpaksa mengembalikan mobil cicilannya karena ekonomi mati untuk beberapa saat, dari dampak besar yang mempengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat banyak tersebut, tentu saja keteledoran yang ngecamprang adalah hal yang sulit untuk dimaklumi. Jika pasar yang keberadaannya amat penting saja tidak dilindungi, bukanlah peristiwa yang mengagetkan ketika beberapa tahun lalu sebagian harta masyarakat Wonosobo dikeruk oleh perusahaan investasi bodong yang tidak bertanggung jawab berlabel PT semacam SS, Rajawali, si konyol berjenggot. Lalu mana filter untuk hal tersebut? Kenapa ijin resmi bisa keluar untuk sesuatu yang jelas merugikan orang banyak. Jika saja mampu dan berani, maka pagi itu setelah selesai masang tenda perusahaan dealer tempat saya bekerja, karena tahu akan menyusahkan banyak orang, peresmian PT bodong didepan pendopo waktu itu mending diobrak abrik dan tak gegeri, sayange saya cuma rakyat yang cilik, lemah, jomblo pula. Jangankan diciduk, dibentak sekali saja sama satpol perjuanganpun pasti berakhir.
Manusia setengah dewa II
Dari panjang lebar penjelasan ini, masalah ekonomi adalah faktor utama keironian yang timbul disini, masalah moral dan masalah akhlak yang merosot dikarenakan pengaruh tempat hiburan malam yang merajalela biarlah masyarakat yang urus sendiri, urus saja tugas kita masing-masing, yang penting pemerintah ciptakanlah situasi ekonomi yang kondusif, undang para investor agar mau buka pabriknya disini sehingga tercipta lapangan kerja dan berikan perlindungan keamaan dari pungli-pungli yang merugikan, filter dan awasi betul betul perusahaan yang hanya memeras keringat orang. Gunakan dana daerah yang dimiliki untuk mengadakan bimbingan dan seminar untuk para mbak-mbak PL, para pengangguran dan PKL bakul sandal, kaset vcd bajakan dsb agar makin pintar menciptakan peluang dan menjadi masyarakat berkualitas yang siap bersaing dan punya nilai jual.
Dan syukur-syukur bila pemerintah berbaik hati, hiburlah kami para PKL, buruh pabrik, yang secara langsung lelah dan keringatnya turut membantu memajukan kota ini, senangkan kami dengan pesta rakyat yang meriah, bukan malah menertibkan dengan kasar para PKL yang mengais rejeki ditengah pesta rakyat yang seharusnya menjadi hak kami juga. Niscaya dengan semua seminar-seminar dan program pro-rakyat itu, lapangan kerja yang melimpah tercipta melalui rakyat yang pintar mengembangkan ekonominya, industri2 kreatif pun akan tercipta, maka akan memberikan pilihan dan berfikir ulang bagi mbak-mbak daripada memilih bekerja dengan terjun ke dunia sing ora-ora. Juga jangan abaikan kaum jomblo, kaum jomblo merupakan generasi penerus yang rela memilh hidup dalam sepi demi mengkonsentrasikan diri untuk gagasan brilian yang nantinya berguna untuk orang banyak, KUA memang menggratiskan pernikahan, tetapi ide revolusioner jomblo seperti saya hanyalah sebuah ide gemading yang tidak matang bilamana masa “topo ing ramenya” terganggu karena tekanan batin, dikucilkan dan dianggap kaum pecundang. Senangkan kami dan beri kami kelas pelajaran psikologi, ilmu komunikasi atau apalah, yang penting bagaimana caranya bisa menjadi manusia seutuhnya yang keren sehingga keberadaan kami yang ada tapi kesingsal, terdengar tapi samar, urip tapi mlipir-mlipir bisa turut eksis berjuang demi meneruskan cita-cita mulia kota ini menuju masyarakat yang religius, toleran dan sejahtera.
Moral dan masa depan Wonosobo pun terselamatkan, generasi penerus kita dimasa depan akan menjadi bibit unggul yang punya budaya dan cerdas, karena mereka tidak kenal dan jauh dari pergaulan bebas. Situasi seperti sekarang yang buruk ini akhirnya hanya memunculkan generasi yang memprihatinkan berupa bibit cabe-cabean, atau terong-terongan yang kerjaannya nongkrong miris didepan Adipura, sungguh suatu gambaran beberapa tahun kedepan yang mengerikan. Tapi bilamana program-program itu dapat terwujud, maka tanpa perlu pencitraan, wahai yang mulia bapak bupati dan ibu wakil bupati yang kami cintai, bapak DPRD serta bapak-bapak semua yang punya pengaruh dikota ini, kami akan sangat berterima kasih dan takdim pada anda semua sehingga secara otomatis kalian kami anggap sebagai manusia.. setengah dewaaaa. JRENG
Source : fb (klik disini)

Copyright © Diary Rifai | Powered by Blogger
Design by Viva Themes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com